Rabu, 04 Januari 2012

Chapter 3 Areel Kecil

CHAPTER 3
AREEL KECIL

Lelaki mungil itu tertunduk malu saat memasuki istana utama Winburg untuk pertama kalinya. Kaki mungilnya berbalutkan alas kaki yang menampakkan ibu jarinya.  Tangannya tak lepas dari telunjuk ayahnya yang digenggamnya erat-erat.  Sementara di sebelah kirinya terlihat laki-laki lima tahun lebih tua darinya, Jonathan, atau yang biasa dia sapa “kakak”.
“Kakak….kita akan tinggal di istana megah ini?” lelaki cilik itu terlihat gelisah
“Tenanglah Areel. Kita ikuti saja Ayah”
“Ayah…Areel takut bertemu Raja”
“Tenang saja Anakku.  Raja Winburg adalah raja yang sangat baik” Alexander menenangkan lelaki cilik itu.
Saat itu Areel memang belum genap tiga tahun dan terlihat canggung saat bertemu Sang Raja, Thomas Joseph King X.
“Salam sejahtera untuk Rajaku, Ratuku….” ucap Areel saat pertama kali berjumpa Raja dan Ratu.
“Dan salam sejahtera untuk putriku” sambung Areel sesaat setelah menatap perut hamil Sang Ratu.  Kontan semua orang dalam aula utama itu menertawakan keluguan Areel.
“Salam sejahtera untukmu juga ksatria cilik.  Darimana kamu tahu salam untuk putriku” gurau sang Raja disambut sikap membungkung Areel.
“Maafkan hamba paduka.  Wajah yang mulia ratu memancarkan aura kecantikan sang putri” serentak tawa dan sipu pun kembali menggema di aula itu. 
Bagi anak seusianya, tentunya tidak mudah merangkai untaian kata-kata tersebut kecuali datangnya dari hati dan sampai ke hati pula. Tapi saat itu Areel masih lah Areel kecil yang belum mengerti arti kata ucapannya hingga kelahiran Putri Aurora membuat banyak mata terhenyak atas guraun si kecil Areel.
***
Putri Aurora lahir dengan lilitan tali pusar pada lehernya diikuti pula dengan letak sungsang atau tidak normal karena bukan kepala yang berada di jalan lahir.  Kondisi tersebut baru diketahui seminggu sebelumnya oleh Tabib istana padahal pemeriksaan terakhir kondisi bayi Putri Aurora menunjukkan tidak ada gejala sungsang.  Padahal sebulan setelah bertemu Raja untuk yang petama kalinya, Areel kembali diundang makan malam perayaan delapan bulanan usia kandungan sang Ratu.
“Maaf yang mulia Ratuku, kiranya mengapa Ratu terlihat sangat pucat.  Hamba takut putriku tak bernapas baik” ujar Areel saat memberi salam pada Sang Ratu.
“Terima kaih ksatria cilik pelindung putriku, mungkin hanya sedikit lelah yang membuat pucat ini terlihat” balas Sang Ratu ramah namun Tabib tidak segera memeriksa kondisi Sang Ratu lebih seksama hingga akhirnya proses kelahiran Putri Aurora berlangsung.  Sudah hampir dua jam proses persalinan belum berakhir juga.  Para Tabib mengerahkan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Putri Aurora namun apa daya kondisi terlilit tali pusar tersebut menyebabkan jalan lahir tertutupi pula oleh ari-ari.  Putri Aurora akhirnya terlahir selamat setelah para Tabib memutuskan untuk memperlebar jalan lahir Sang Ratu. 
Penyelamatan Putri Aurora tidak berdampak baik pada Sang Ratu karena perdarahan luar biasa terjadi sesaat setelah Putri Aurora selamat.  Ternyata kondisi pucat Sang Ratu dulu menunjukkan adanya kekurangan darah pada tubuh Ratu sehingga penyakit berbahaya menyertai kehamilannya dan akhirnya kehilangan darah sedikit saja dapat menyebabkan kematian.  Perdarahan membuat Sang Ratu tidak bertahan lama setelah berhasil melahirkan Putri Aurora dengan selamat.  Sang Raja diperbolehkan masuk sesaat setelah Putri Aurora lahir sehingga Sang Raja masih mendapati kesempatan terkahir bertemu Sang Ratu.  Haru tangis mewarnai kondisi di ruang utama Ratu tersebut.
“Jaga putri kita kanda.  Lihat auranya cantik bukan” dan senyum indah menghias bibir Sang Ratu untuk yang terkahir kalinya.  Sang Raja memeluk erat Sang Ratu untuk yang terkahir kalinya dan berharap tak akan pernah melepaskan pelukan itu. 
Duka sekaligus suka berbaur menjdai satu dalam ruagan itu.  Tangisan pertama Putri Aurora tak kunjung berhenti seperti ikut merasakan kepergian sang Bunda.
Keluarga Alexander juga turut menyaksikan peristiwa kelahiran Putri Aurora.  Areel seperti tidak bisa lepas dari Sang Ratu sejak pertama kali bertemu.  Areel sering diundang Ratu untuk menyalami bayi mungil di kandungannya.  Sesaat setelah Putri Aurora lahir, Areel menyeruak ingin masuk melihat sang Putri namun dicegah oleh ibunda karena suasana duka masih menyelimuti.
Tangis Putri Aurora  yang baru lahir tidak kunjung berhenti padahal selimut tebal sudah melapisi tubuhnya supaya hangat.  Para dayang dan Tabib tidak kalah sibuknya untuk menenangkan Putri Aurora bahkan dayang penyapih yang bertugas menyusui Putri Aurora pun tidak mempan membuat tangis putri berhenti.  Para Tabib khwatir tangisan yang tidak dapat berhenti tersebut dapat menyebabkan Putri Aurora kelelahan dan meninggal seperti ibunda Ratu karena kondisi Putri Aurora masih rentan.
“Kenapa sang Putri menangis terus ayah?” tanya Areel yang tak sabar menunggu ingin bertemu Sang Putri.
“Sabar ya Areel. Di dalam sana masih berduka. Mungkin Putri ikut menangisi kepergian Sang Ratu” Alexander mencoba menenangkan Areel.  Di sampingnya banyak keluarga istana menunggu juga kabar dari Tabib. 
Putri Aurora yang masih menangis akan dipindahkan ke ruangan sebelah supaya lebih dapat menikmati udara bebas, maklum ruangan utama Ratu masih dipenuhi para dayang dan Tabib yang merawat jenazah Ratu. Saat pintu utama ruangan Ratu dibuka, bayi mungil Sang Putri di gendongan dayang asuh itu masih menangis namun tangisnya tiba-tiba berhenti saat Areel mendekatinya.
“Jangan menangis lagi Putri” ucap Areel sembari mengusap lembut kening bayi Sang Putri.  Alexander terkejut bukan main karena Areel yang di sisinya sudah menerobos mendekati bayi mungil tersebut. Para Tabib pun hanya terheran-heran dan meminta Alexander untuk mengizinkan Areel menemani bayi mungil yang masih merah merona itu.
“Bundaku berkata bahwa ksatria tidak boleh mangis dan juga membiarkan putri menangis” Areel menemani bayi mungil itu sampai tertidur pulas sehingga Tabib dapat memberinya ramuan tambahan untuk nutrisi tubuhnya.
“Ksatria cilik Areel sudah boleh pulang. Putri sudah tenang sekarang dan akan beristrihat dahulu” Tabib Rudolf mempersilakan Areel untuk pergi karena sudah hampir seharian Areel menemani Sang Putri.  Mentari sudah hampir turun pertanda malam akan tiba. Areel hanya menurut saja dan melangkah keluar namun tidak untuk pulang melainkan tetap menunggu di luar pintu kamar Sang Putri.  Tabib Rudolf masih belum mengetahui hal tersebut sampai akhirnya dia membuka pintu kamar Sang Putri.
“Loh…mengapa masih berada di sini ksatria cilik?” tanya Tabib Rudolf keheranan.
“Aku akan menjaga tuan Putri dari sini Tabib” jawab Areel sembari duduk di lantai depan kamar Sang Putri.
“Ksatria cilikku juga harus istirahat, nanti kalau sakit siapa yang akan menjaga tuan Putri. Ayo kembali ke kamarmu dan beristirahatlah” Areel menggeleng dan tetap belum beranjak dari tempatnya.
“Aku takut putri mencariku malam hari nanti. Jadi aku akan di sini menjaga putri” dan Tabib Rudolf menyerah untuk tidak memaksa Areel kembali pulang.
“Baiklah….daripada ksatria cilik menunggu disini dan sakit, lebih baik masuk saja berada di samping tuan Putri. Tapi ingat…jangan menganggu tidur tuan Putri ya” Areel terseyum senang dan segera menemani sang Putri kembali.

***
“Areel tangkyaappp…” Putri Aurora mlemparkan bola kecil ke arah Areel dan dengan sigap Areel mengejar bola itu.
“Ini putri” Areel membawakan bola kecil itu pada Putri Aurora.  Keduanya masih sangat kecil saat itu, Areel hampir lima tahun sementara Putri Aurora masih dua tahun.
“Telima kasih” ujar Putri Aurora tersenyum dan Areel balas tersenyum.
“Cekalang Areel yang tutup mata dan cali aku ya…” Putri Aurora mengajak bermain petak umpet dan Areel menurut saja.  Sudah puluhan kali mainan ini dia mainkan saat Putri Aurora sudah mulai bisa berjalan.
“Satu…Dua…Tiga….Empat…Lima…” Areel mulai menghitung hingga sepuluh dan saat membalikkan badan, Putri Aurora sudah bersembunyi.  Biasanya tidak sulit menemukan Putri Aurora karena larinya masih pelan dan tidak dapat bersembunyi jauh.  Namun kali ini Areel mulai khawatir karena sudah lima menit mencari dan belum menemukan Putri Aurora. 
“Tuan Putri….ayo  keluar….” teriak Areel namun percuma tampaknya Putri Aurora tidak mendengar.  Areel terus mencari hingga tak sadar memasuki Taman Batu Bundar.  Dilihatnya tubuh Putri Aurora ketakutan meringkuk di balik Batu Bundar.
“Putri…” Areel pun menemukan Putri Aurora
“Aku takyut…” Putri Aurora mulai menangis dan memegang erat tangan Areel.
“Cup…cup…cup…jangan menangis putri.  Ayo pulang…” Areel mulai menggandeng tangan Putri Aurora namun sang putri masih belum beranjak.  Istana Winburg memang luas dan wajar saja bila Putri Aurora yang masih kecil tersesat di tempat luas ini.
“Mari putri, Areel gendong ya” Areel meminta izin Putri Aurora yang masih menangis.  Putri Aurora hanya mengangguk pelan dan akhirnya Areel mengendong putri kembali ke kamarnya.
“Putri istrihahat dulu ya.  Besok main lagi. Sudah jangan menangis ya. Ada Areel yang akan melindungi putri” Areel terus mengoceh sambil menggendong Putri Aurora namun tak ada suara balasan, yang terdengar hanya dengkuran kecil sang Putri.  Tampaknya Putri Aurora begitu lelah hingga tertidur di gendongan Areel. Para dayang ikut bingung mencari Putri Aurora yang tak kunjung kembali dan mereka sedikit lega karena Areel membawa pulang sang Putri.
“Duh ksatria cilik…dari mana saja. Kita semua bingung mencari Putri Aurora” Marloette mengambil Putri Aurora dari punggung Areel.
“Maafkan kami.  Putri Aurora tersesat sampai di taman air mancur dengan batu besarnya” Areel mencoba menjelaskan.
“Oh…Taman Batu Bundar ya…ya sudah. Ksatria cilik sudah boleh beristirahat sekarang.  Putri Aurora juga akan beristirahat dulu” Marloette membawa Putri Aurora masuk ke kamar utama untuk beristirahat.  Jadwal bermain Putri Aurora memang tidak pasti namun hampir setiap harinya Areel selalu menemani Putri Aurora. 
Putri Aurora biasanya selalu menanyakan Areel bila sehari saja tidak melihat batang hidungnya. Sementara, Areel selalu mengajak Jonathan bermain bersama.  Kedua ksatria cilik itu senang sekali bermain pedang-pedangan.  Mereka biasanya menggunakan ranting kayu yang panjang sebagai pedang.  Walau masih kecil, bakat ksatria keduanya sudah mulai terlihat.  Si kakak Jonathan lebih sering diam dan memberikan kesempatan kepada Areel untuk mulai memainkan rantingnya terlebih dahulu. Biasanya keduanya bermain di tempat yang terpisah dengan Putri Aurora namun seringnya Putri Aurora mengunjungi vila mereka dan mengganggu latihan ranting kedua ksatria cilik itu.
“Ka Jo awas…” Areel mulai memainkan ranting kayunya sebagai pedang dan Jonathan dengan sigap menghindar.
“Tak perlu memberi tahu akan menyerang Areel. Nanti musuhmu bisa mengelak” Jonathan mulai membalas serangan ranting kayu Areel.
“Baiklah Kak” dan Areel terus menerus memainkan pedang mainannya hingga Jonathan terdesak menyentuh pohon rindang.  Di bawah pohon Oak inilah keduanya bermain dan melatih bakat mereka dari kecil.
“Bagus Areel.  Kakak kalah kali ini” Jonathan mengakhiri permainan pedang kali ini. Dia mengambil minumannya di samping pohon.
“Mari minum dulu.  Permainan pedang Areel sudah bagus. Ayah pasti akan senang melihatnya. Nanti kalau Areel sudah sebesar Ka Jo pasti Areel akan dapat pedang seperti ini” Jonathan mengeluarkan pedang sungguhan di sampingnya.
“Wah…Areel mau kak….” Areel memaksa pinjam pedang itu namun Jonathan melarangnya.
“Pedang ini nanti pasti bisa kamu pakai Areel asalkan Areel sudah besar nanti yah”
“Baiklah kak Jo. Nanti kalau sudah besar Areel mau pakai pedang itu untuk melindungi Putri Aurora”
“Bagus adek kecil” dan Jonathan mengacak rambut Areel.
“Nanti kita berdua kan kak jadi pelindung Sang Putri?” Jonathan mengangguk mantap. Bagi dia, seluruh jiwa dan raga memang untuk Winburg tercinta termasuk di dalamnya melindungi Putri Aurora.
“Ayo pulang…nanti ayah mencari kita” ajak Jonathan dan Areel hanya menurut.  Keduanya menerobos pepohonan rindang dan kembali ke ruang utama. 
Putri Aurora biasanya sudah menunggu mereka di sana untuk bermain.
“Celamat datang…” senyum khas Putri Aurora menyambut kedatangan kedua ksatria cilik itu.
“Hormat kami tuan Putri” dan kedua kstria cilik itu menyampaikan salam hormat pada Putri Aurora dengan membungkukkan badan.  Putri Aurora belum mengerti mengapa semua orang membungkukkan badan ketika menyampaikan salam untuknya.   Hingga akhirnya Putri Aurora mulai ikut-ikutan membungkukkan badan ketika memberi salam pada orang lain.  Hal itu sedikit membuat orang-orang di sekitarnya canggung namun itulah khasnya Putri Aurora. Selanjutnya mereka bertiga asyik bermain layaknya anak kecil pada umumnya.
***

Chapter 2 Hutan itu Bernama Hutan Ksatria

CHAPTER 2
HUTAN ITU BERNAMA HUTAN KSATRIA

Lima ratus kilometer di luar istana Winburg, di sebuah daerah perbatasan selatan yang dikenal dengan sebutan Hutan Ksatria, tampak para ksatria Winburg berlatih dengan tekun.  Hutan Ksatria memang tempat digojloknya para ksatria Winburg.  Satu abad yang lalu, hutan ini merupakan tempat pelarian para prajurit perang yang terdesak musuh dari arah selatan.  Peperangan untuk memperluas kekuasaan memang selalu terjadi, termasuk di negeri Winburg ini.  Memang tidak terlalu luas seperti peperangan di negeri tetangga namun Winburg selalu menjadi incaran musuh karena sumber alamnya.  Emas dan batubara adalah andalan negeri ini selain dari hasil pertaniannya.
Bila dilihat dari atas, bentuk daratan negeri Winburg memang unik dan strategis, di selatannya dilindungi oleh Hutan Ksatria yang menjadi pintu masuk sumber batu bara sementara di utara dikelilingi oleh pegunungan yang menjadi sumber emasnya.  Daratan elips yang dikelilingi pegunungan menjadi benteng tersendiri untuk Winburg.  Selain itu, di barat dan timur terkenal sebagai tempat melintasnya Sungai Heart Red  yang menjadi pemasok utama sumber air di negeri Winburg.  Sungai dengan anak cabang mengalir menjelajahi seluruh pelosok Winburg ini mencatat banyak sejarah peperangan air karena bagian sungai yang lebar di sebelah barat menjadi pintu penghubung terhadap lautan luas.  Tidak jarang armada laut Winburg dikerahkan melalui pintu yang satu ini.  Anak Sungai Heart Red  juga melintasi jantung kota dan dihubungkan oleh Jembatan Heart Red. Sementara itu, Winburg terbagi atas lima negara bagian kecil yang membuat Winburg makin disegani, apalagi zaman keemasan Raja Joseph King X.
Namun, berita bahwa Putri Aurora adalah satu-satunya pewaris membuat ribuan ksatria di Hutan Ksatria berlatih keras.  Hanya mereka yang terbaiklah yang dikirim ke istana dan berhak menjadi Ksatria Pelindung sang Putri. Selama ini, sekali dalam setahun selalu ada pergantian prajurit istana, termasuk Ksatria Pelindung namun khusus untuk Ksatria Pelindung yang mendampingi Putri Aurora kemana pun dia pergi langsung dipilih oleh Raja dan Putri Aurora.  Syarat yang diajukan Raja pun tergantung pada keinginan Putri Aurora dan hingga usianya yang ke-13 telah ratusan Ksatria Pelindung yang menjaga Putri Aurora baik secara langsung maupun tidak langsung.  Hanya sedikit yang bertahan lama karena terkadang Putri Aurora enggan ditemani oleh banyak Ksatria Pelindung sehingga hanya beberapa orang saja yang menjaganya dan sisanya menjaga keamanan Raja Thomas dan istana Winburg.
“Ksatria Winburg…bagaimana kabar hari ini!!!” Alexander van Burgh, Panglima Tertinggi Hutan Ksatria menyapa seluruh ksatria Winburg.
“Luar biasaaa…..” tidak kurang dari seribu ksatria muda baru tiap tiga bulan berlatih di hutan ini.  Tidak ada wajib militer sebenarnya di negeri ini namun secara turun menurun rakyat Winburg merasa bangga apabila salah satu anggota keluaranya mendaftarkan diri menjadi ksatria Winburg di usia 17 tahun dan lolos seleksinya.
“Selamat datang wahai Ksatria WInburg di Hutan Ksatria.  Selamat berlatih dengan sebaik-baiknya di hutan ini.  Selama lebih kurang dua tahun ke depan kalian akan diajarkan banyak hal, tidak hanya yang berhubungan dengan kekuatan fisik melainkan juga kekuatan hati.  Banyak yang terus berada di level satu seperti kalian pada saat ini namun tidak sedikit pula yang berlatih keras sehingga berhasil berada di level tiga seperti Ksatria Winburg yang ada di depan kalian ini.  Merekalah para ksatria yang telah melewati tahun demi tahun berlatih di Hutan Ksatria dan mereka inilah yang telah SIAP untuk melindungi Winburg dari segala macam ancaman.  Kalian akan menjadi bagian dari mereka nantinya.  SIAPkah kalian?” Alexander menghipnotis ksatria baru dengan untaian kata penyemangatnya.
“SIAP…..” serempak para calon ksatria menjawab.
“Bagi yang nyalinya masih belum siap melindungi Winburg di garis terdepan, CEPAT ANGKAT kaki sekarang juga dan kembali ke rumah kalian masing-masing.  Winburg tidak butuh orang lemah dan bernyali ciut”
Tidak ada seorang pun yang mengangkat tangan.  Memang, menuju Hutan Ksatria bukan perkara mudah.  Setiap negara bagian telah menyediakan tempat pendaftaran khusus bagi pemuda yang telah berusia 17 tahun namun para calon ksatria dari masing-masing negara bagian tersebut hanya dilengkapi dengan sebuah peta dan pedang.  Hanya mereka yang berhasil melewati perangkap dan jebakan sepanjang menuju Hutan Ksatrialah yang berhak mendapatkan pengajaran dari orang-orang terhebat pelindung Winburg.  Tidak semua calon ksatria dapat mencapai Hutan Ksatria dengan baik karena jalan yang berliku-liku dan mengecoh yang tertera di peta.  Bagi yang tidak berhasil mencapai Hutan Ksatria namun berhasil mencapai tempat teraman dari serangan binatang buas di sekitar Hutan Ksatria maka boleh mendaftar lagi tahun depan. Bahkan banyak yang sekarang berada di Hutan Ksatria bukan karena tahun pertama mencoba melainkan entah sudah yang keberapa kalinya mereka mencoba.  Keberadaan Hutan Ksatria memang khusus dan tidak semua orang dapat mencapainya.  Mereka yang berhasil masuk ke Hutan Ksatria ini merupakan orang-orang tangguh negeri Winburg, termasuk seribu calon ksatria baru yang siap dididik kali ini.
“Kalian semua SIAP?” teriak Alexander mengema, mengobarkan semangat berlatih.
“SIAP….” Dan seribu calon ksatria baru itupun diterima menjadi prajurit level satu di Hutan Ksatria.  Ada tiga level yang harus dilewati untuk dapat menjadi Ksatria Istana Winburg.  Level pertama disebut level dasar di mana setiap ksatria akan diberikan latihan dasar kekuatan fisik mulai dari bela diri, bermain pedang, tombak, panah, serta berbagai latihan untuk meningkatkan stamina tubuh.  Mereka berlatih siang malam dan bagi yang lolos ujian dapat naik ke level lanjutan yaitu level menengah.  Level ini mengajarkan taktik perang yang lebih dahsyat.  Setiap satu ksatria akan dibekali beban untuk mengajarkan ilmunya kepada 10 ksatria di level dasar.  Selanjutnya inti utama level menengah ini akan terlihat di malam hari.  Mereka berlatih menaklukkan malam tanpa senjata.  Bagi yang lolos level ini dapat masuk ke level terakhir yang disebut level pelindung.  Segala yang diajarkan di level terakhir ini erat kaitannya dengan bagaimana menjadi ksatria pelindung istana Winburg.  Latihan yang diberikan tidak hanya kekuatan fisik melainkan para ksatria akan ditempa kekuatan otaknya dengan pengetahuan mendetail seputar Winburg.  Ksatria yang sudah melewati seluruh tahapan dengan baik nantinya akan kembali mengabdi kepada Winbug dengan banyak cara.  Ada yang kembali ke negara bagiannya dan menjaga keamanan di negara bagian tersebut. Ada pula yang tetap mengabdi menularkan ilmu di Hutan Ksatria.  Namun tidak sedikit yang menjadi Ksatria Pelindung di garis perlindungan utama di istana Winburg,  melindungi Raja Thomas dan Putri Aurora.
Sistem perputaran ksatria yang bagus dan merata membuat semua ksatria dapat berbuat semaksimal mungkin dalam menjaga keamanan negeri Winburg.  Para Panglima Utama hingga komandan perang nomor satu pun langsung diterjunkan untuk melatih para calon ksatria Winburg tersebut baik ada ataupun tidak ada peperangan.  Selain itu, komandan terbaik akan bertugas di istana untuk kurun waktu 3 tahun dan akhirnya dikembalikan lagi mendidik langsung para prajurit di Hutan Ksatria.
Ksatria Winburg terkenal dengan keberanian dan ketangkasanya serta pengabdiannya oleh karena itu Raja selalu memperlakukan para ksatria dengan baik.  Bagi Raja Thomas, ksatria Winburg adalah hal terbaik setelah aset negeri berupa tambang emas dan batu bara di Winburg.  Persediaan logistik untuk ribuan prajurit di Hutan Ksatria selalu terpenuhi dengan baik dan bukan istana yang memberikannya melainkan rakyat langsung.  Rakyat sangat gembira hidup dalam situasi damai tanpa peperangan selama kurun waktu 50 tahun ini.  Rakyat dapat bercocok tanam serta melakukan penambangan dengan tenang tanpa rasa khawatir sehingga hasil bumi selalu melimpah ruah. Seusai panen, rakyat akan mengumpulkan stok makanan yang nantinya dikirimkan ke Hutan Ksatria pada posko-posko yang telah dibangun di masing-masing negara bagian.  Bila dirasa cukup, akan ada ksatria yang menyamar menjadi orang awam mengambilnya dan mengantarkannya ke Hutan Ksatria.  Raja dan seluruh pegawai istana sendiri telah mendapatkan haknya secara tercukupi sehingga penggelapan hasil negara nyaris tidak pernah terjadi di Winburg.
***
Alexander van Burgh, lelaki berusia hampir setengah abad itu masih terlihat kokoh.  Hidup dan pengabdiannya yang hampir separoh usianya tak meninggalkan gurat kelelahan justru yang ada gurat kebanggaan tersirat di wajahnya.  Telah tiga puluh tahun Alexander menemani Raja Thomas memerintah mulai dari berada di garis terdepan mengawal para prajurit hingga berada langsung di samping Raja.  Tugas beratnya untuk menciptakan ksatria tangguh pelindung Putri Aurora pun masih menjadi misi rahasianya kembali ke Hutan Ksatria ini.
Dan setelah lima tahun kembali ke Hutan Ksatria, ksatria unggulan sebagai pelindung Putri Aurora mulai terlihat menonjol.  Memilih yang terbaik di antara yang baik memang bukan perkara mudah, itu juga yang dirasakan Alexander saat ini.  Tubuh kokohnya menatap seribu ksatria baru dan seribu ksatria lama dengan tajam.  Baginya, salah memilih berarti mati.
“Alexander sahabatku...kembalilah ke Hutan Ksatria dan carilah ksatria pelindung untuk putriku.  Jantungku selalu berdegup kencang bila membayangkan putriku memasuki usia ke-17 tahunnya.  Putriku masih begitu belia sekarang namun dia harus mampu menampu negeri ini sendirian nantinya” paduka Raja berbincang di suatu sore di Taman Batu Bundar.  Taman ini bukan saja menjadi tempat persembunyian Putri Aurora melainkan juga menjadi tempat yang disukai Sang Raja.
“Jangan khawatir paduka, hamba akan berjuang sebaik mungkin demi Putri Aurora dan Winburg ini.  Selagi masih ada Hutan Ksatria, Winburg tidak akan pernah goyah paduka.  Kitalah pemilik sah negeri ini dan sampai kapan pun kitalah pemiliknya.”
“Kau ini memang yang terbaik Alexander...tapi tetap saja aku tidak dapat menghilangkan kekhawatiranku ini.  Kau bisa lihat kemarin putriku mogok makan hanya untuk melihat dunia di luar istana sana dan akhirnya aku hanya membiarkan dia sampai gerbang utama saja.  Dia masih terlalu kecil Alexander, masih sepuluh tahun, masih belum mengerti betapa berharganya dia untuk negeri Winburg ini.  Betapa aku ingin selalu melindungnya”
“Hamba mengerti paduka”
“Terima kasih Alexander.  Aku tidak ingin melihat Putriku bertindak bodoh lagi apalagi bila membahayakan nyawanya termasuk upaya mogok makannya itu.  Aku berharap Jonathan dapat menjaganya dan juga membujuknya untuk sabar menunggu usia 17 tahunnya”
“Baiklah paduka.  Hamba akan senantiasa meminta Jonathan untuk lebih mengawasi Putri Aurora sekaligus membimbingnya”
“Yah…mungkin aku yang terlalu khawatir seperti ini Alexander padahal Putriku sudah ku bekali banyak hal untuk persiapan dia memimpin istana ini suatu hari nanti” Raja terlihat menyesal telah menarik ksatria pelindung Putri Aurora kembali setelah sampai di gerbang depan.
“Dia begitu lucu bukan Paduka.  Andai saja anakku Areel masih hidup pasti hamba tidak perlu ikut khawatir seperti sekarang ini” Alexander terlihat berkaca-kaca mengingat putra keduanya yang telah hilang dan dinyatakan meninggal.  Masih teringat jelas peristiwa lima tahun silam saat hujan badai memporak-porandakan jembatan Heart Red , jembatan utama Winburg. 
Saat itu ksatria kecilnya yang baru berumur delapan tahun sedang berada dalam perjalanan pulang menuju istana Winburg setelah lawatan agung pernikahan Putri Wina Frederich Lou dengan Pangeran James Whine Hannah di negeri tetangga.
Perjalanan pulang memang sudah ditunda karena kondisi yang kurang baik.  Hujan lebat mengguyur Winburg saat itu namun di hari kedua perjalanan kembali dilanjutkan karena hujan mulai reda.  Iring-iringan kereta kuda sepanjang dua puluh meter yang membawa seluruh tamu penting dari istana termasuk keluarga Alexander van Burgh itu memadati jalanan di jantung kota Winburg.  Hujan memang sudah mereda namun badai yang datang tiba-tiba tersebut di luar dugaan.  Badai tepat datang sekilas dan merusak jembatan Heart Red  sesaat setelah sebagian besar rombongan kereta kuda melintasi jembatan tersebut.  Kereta keluarga Alexander adalah kereta terakhir yang ikut terperosok jatuh ke dalam Sungai Heart Red  bersama lima kerata kuda lainnya akibat badai tersebut.  Untunglah saat itu Alexander berada bersama dalam kereta Raja untuk menjaga keamanan Raja. Hanya istri dan putra keduanya yang berada dalam kereta naas itu.
Serempak percarian dilakukan dengan melibatkan rakyat Winburg di sekitar jembatan utama tersebut.  Istri Alexander berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal namun putra keduanya, Areel van Burgh tidak berhasil ditemukan.  Hingga hampir satu bulan lebih seluruh ksatria Winburg dikerahkan untuk menyusuri Sungai Heart Red  demi mencari ksatria kecil, Areel namun sia-sia.  Areel tidak pernah berhasil ditemukan dan dinyatakan meninggal karena anak seusia Areel tidak mungkin selamat dari arus Sungai Heart Red  apalagi kondisi hujan deras masih mendera.
Masih teringat jelas di hari naas itu Putri Aurora yang masih berusia lima tahun menangis sepanjang hari.  Jiwanya ikut merasakan kehilangan Areel apalagi selama ini Areel menjadi satu-satunya teman bermain Putri Aurora di istana.  Putri Aurora mendadak demam tinggi selama satu minggu setelah peristiwa hilangnya Areel tersebut. Seluruh negeri berduka kembali setelah lima tahun yang lalu Sang Ratu pergi meninggalkan Winburg dan saat ini Ksatria Alexander van Burg kehilangan keluarganya serta ditambah lagi sakit Putri Aurora yang mendadak dan tak kunjung sembuh.
“Maaf paduka, kami sudah mencoba semua ramuan namun demam Putri Aurora belum kunjung menurun.  Beliau selalu mengigau dan menyebutkan nama ksatria cilik Areel Paduka.  Menurut kami, sakit Putri Aurora berhubungan dengan hilangnya tuan Areel Paduka” Tabib Rudolf mewakili para Tabib lainnya berusaha menjelaskan.
Tampak paduka Raja dan Alexander semakin khawatir karena Areel belum juga ditemukan walau seluruh ksatria Winburg sudah dikerahkan.  Seiring dengan berjalannya pencarian Areel, demam Putri Aurora berangsur-angsur menurun seminggu setelah peristiwa hilangnya Areel.  Istana Winburg sedikit dapat bernafas lega atas kesembuhan Putri Aurora tersebut.
“Maafkan aku mengingatkanmu tentang Areel.  Aku  pun begitu merindukannya Alexander.  Sungguh hanya dia yang dapat mendiamkan tangis putriku bukan” suara sang Raja menyadarkan lamunan panjang Alexander.
“Benar paduka.  Hamba selalu merasa Areel senantiasa ada di samping hamba. Untunglah masih ada Jonathan yang menemani hari-hari hamba. “
“Kau benar Alexander. Jonathan putramu itu tidak kalah tangkasnya dibanding denganmu sewaktu muda dulu.  Dia sudah mulai tumbuh dewasa bukan. Sudah kau siapkan pendamping untuknya?”
“Hamba belum memikirkan ke arah yang lebih jauh paduka. Bagi kami, Ksatria Winburg, keselamatan Winburg, Paduka Raja, dan Putri Aurora adalah yang utama”
“Terima kasih Alexander.  Kamu adalah sahabatku, selalu ada dan menghiburku di kala duka.  Katakanlah bila ada yang dapat kulakukan untumu Alexander”
“Terima kasih paduka.  Keselamatan dan kesehatan semoga selalu tercurah untuk padukaku agar Winburg senantiasa damai”
Mentari magenta sore pun turun perlahan meninggalkan perbincangan dua orang penting Winburg.  Taman Batu Bundar menjadi sakti perbincangan itu.

***

CHAPTER 1
SUATU PAGI DI ISTANA WINBURG

Mentari masih malu menampakkan diri padahal musim hangat sudah mulai menyapa negeri Winburg, sebuah negeri makmur yang dipimpin oleh seorang Raja bijaksana bernama Thomas Joseph King X.  Di bawah kepemimpinannya negeri Winburg tumbuh dengan subur dan damai.  Padang rumput terhampar menghijau indah diselingi banyak hewan ternak yang mencari rumput segar di Winburg.  Deretan bukit mengelilingi Winburg laksana benteng memagari benda berharga.  Belum lagi hasil tambang yang berkilauan dan membuat Winburg menjadi salah satu negeri incaran para musuh.  Beruntung negeri Ksatria ini selalu dapat menghalau musuh yang menyerang sehingga kemakmuran dan kesejahteraan bukan lagi hal langka di negeri Winburg.
Kepemimpinan Raja Thomas Joseph King X sedikit berbeda dengan raja-raja sebelumnya karena berhasil melewati batas dua puluh lima tahun kehidupan dan menghasilkan satu keturunan cantik bernama Aurora.  Berbeda dengan kebanyakan Raja lainnya yang mempunyai selir, Raja Thomas Joseph King X hanya menikah sekali dengan Ratu Maria Frederich Lou. Selanjutnya, putri cantik bernama Aurora Frederich King ini selalu menemani hari-hari Raja menjadi lebih indah.  Walau mengharapkan putra yang dapat menggantikan kedudukannya kelak namun Raja Thomas tetap menyayangi putri kenangan terakhirnya dengan Ratu Maria tersebut. Putri Aurora, begitu seluruh sendi istana Winburg memanggilnya.
Putri Aurora tumbuh menjadi gadis cantik dan juga lincah.  Rambut pirangnya yang terurai hingga punggungnya selalu menimbukan decak kagum.  Warna rambutnya yang coklat kekuningan bersanding pas dengan warna bola matanya yang biru kehijauan.  Bibirnya yang tipis merah merona pun menambah keelokan wajahnya.  Kulitnya yang seputih dan selembut salju membuat seluruh penghuni istana Winburg berdecak kagum. Tingginya yang cepat sekali bertambah juga membuatnya tampak lebih dewasa daripada usianya.  Namun, sayangnya tingkah Putri Aurora masih saja kekanak-kanakan. 
Putri Aurora bergerak kesana sini dengan lincah sehingga tidak sedikit keributan telah dibuatnya di istana Winburg ini.  Seperti pagi-pagi sebelumnya, istana megah yang dikelilingi pepohonan rindang ini selalu ramai dan lebih gempar lagi dengan adanya ulah Putri Aurora yang semakin menjadi-jadi.  Pagi itu saja sudah sepuluh dayang dibuat bingung mencari Putri Aurora hanya untuk bersiap mandi dan sarapan.  Padahal Putri Aurora sudah bukan anak kecil lagi.
“Ayo coba tangkap aku” Putri Aurora kabur dari ruangannya dengan piyama yang masih menempel.  Rambut panjangnya yang berwarna coklat  menari-nari terkena angin pagi. 
“Duh putri…ayo mandi dulu.  Mainnya nanti dulu…” Marloette berteriak sembari mengejar Putri Aurora.  Kepala dayang yang membantu keperluan Putri Aurora sejak masih dalam kandungan itu bertubuh sedikit tambun dengan beberapa helai rambut putih sudah menghias di kepalanya.  Namun wanita itu tetap saja segar bugar dan tidak bosannya melayani Putri Aurora bahkan apapun akan dilakukan untuk memuaskan Putri Aurora termasuk meladeni semua permaian Putri Aurora.  Maklum Putri Aurora tidak punya teman bermain karena hanya satu-satunya putri Sang Raja.
Marloette masih saja berlari kecil mencari Putri Aurora yang sudah melesat jauh karena kelincahannya. Biasanya tidak begitu sulit menemukan Putri Aurora bila sedang ingin bermain petak umpet.  Taman Batu Bundar menjadi jawabannya.  Putri Aurora begitu menyukai taman dengan sebuah air mancur di tengah.  Tepat di samping air mancur terdapat sebuah batu bundar berdiameter satu meter yang dilengkapi dengan sebuah kursi kecil di sebelahnya.  Putri Aurora paling menyukai tempat itu untuk bersembunyi.  Dari luar memang tidak akan terlihat ada orang bersembunyi di balik batu air mancur itu.  Putri Aurora selalu menghabiskan sisa waktu sorenya di taman ini bila tidak ada pelajaran tambahan dari para guru yang diundang langsung ke istana oleh Raja.  Namun tidak jarang Putri Aurora bermain di taman lainnya karena memang banyak taman menghias setiap sudut di istana ini.
“Mari tuan putri, Paduka Raja sudah menunggu untuk sarapan bersama” Marloette, dayang kesayangan Putri Aurora sudah menemukan persembunyian Sang Putri atau lebih tepatnya sebuah tempat untuk melarikan diri Putri Aurora.  Dengan nafas tersengal-sengal karena usianya yang sudah tidak muda lagi, Marloette mendekati Putri Aurora yang duduk manis di bangku tepat di bawah batu bundar.  Tingkahnya tidak seperti Putri Aurora yang memang sengaja ingin bersembunyi.
“Aku bosan Marloette.  Kapan aku bisa bermain di luar sana?” Marloette hanya tersenyum.  Ini bukan kali pertamanya Putri Aurora mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari istana namun apa boleh buat peraturan di istana Winburg tidak dapat terbantahkan.  Putri Aurora dilarang menginjakkan kaki keluar istana sebelum berusia 17 tahun.
“Apa aku harus menunggu seperti ini terus Marloette” wajah Putri Aurora tampak merajuk.  Memang, sejak Sang Ratu meninggal dunia saat melahirkan Putri Aurora, Paduka Raja menjadi sangat melindungi Putri Aurora bahkan di dalam istana sekali pun puluhan dayang siap melayani Putri Aurora  belum lagi para kesatria Winburg yang siap melindungi Putri Aurora setiap waktu.
“Tenanglah Tuan Putri….sebentar lagi Putri berusia 17 tahun dan dapat menginjakkan kaki di luar istana” Marloette berusaha menghibur.
“Huh…tapi aku bosan.  Rasanya seperti ratusan abad menunggu saat itu datang Marloetta.  Bisa-bisa aku sudah mati kebosanan di sini.  Peraturan macam apa itu”
“Duh Putri…jangan bicara yang tidak-tidak.  Tuan Putri kan hampir berusia 17 tahun.  Lagi pula Paduka Raja terlalu sayang pada Tuan Putri sehingga membuat aturan seperti itu”
“Hampir bagaimana? Masih harus menungu empat tahun lagi.  Huh…pokoknya aku bosan…toh aku bisa melindungi diri sendiri di luar sana.  Atau aku harus mogok makan seperti dulu lagi?” Putri Aurora menakut-nakuti Marloette.
“Duh Putri…hamba mohon jangan melakukan hal bodoh yang dapat menyebabkan putri sakit.  Kami semua menyayangi Tuan Putri”
“Huh…kalau ayah sayang maka aku akan dibolehkan bermain ke luar istana.  Toh ayah sudah membekaliku banyak hal termasuk didikan yang sama seperti didikan para ksatria yang tidak pernah bosan berada di sampingku itu” Putri Aurora benar-benar merajuk.
“Hem…Hem…” terdengar suara deheman berat, suara lelaki.
“Tampaknya ada yang baru saja menyebut nama Ksatria Winburg” tampak sesosok lelaki berwajah tampan dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter tiba-tiba muncul di samping Putri Aurora.  Rambutnya yang panjang sebahu dan terurai hitam menambah pancaran aura ksatrianya.  Sebuah senyum tersungging di bibirnya, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.  Sebuah tahi lalat ada di ujung pelipis kanannya, sangat khas dengan ukuran kecil namun masih dapat terlihat bila kamu berhadapan dekat sekali dengan lelaki itu.
“Oalah….Ksatria Jonathan mengagetkan saja” Marloette nyaris terkejut di buatnya.  Ksatria Jonathan yang disebut makin memperlebar senyumnya, seolah menang bahwa dia berhasil mengejutkan kepala dayang tersebut.
“Hormat hamba pada Tuan Putri” Ksatria Jonathan memberikan salam dengan membungkukkan setengah badan di hadapan Putri Aurora.
“Tuh kan Marloette…baru saja kusebut nama ksatria sudah muncul Jonathan di hadapanku.  Apa memang aku tidak pernah bisa melakukan segalanya sendirian?” Putri Aurora bersungut kesal, berdiri dari duduknya dan pergi melangkah meninggalkan Marloetta dan Jonathan yang selalu dibuatnya bingung.
“Maafkan Tuan Putri, Ksatria Jonathan…” Marloetta merasa tidak enak hati.
“Sudahlah bibi Marloetta…kita semua tahu tabiat Tuan Putri kalau sedang merajuk.  Toh sebentar lagi senyum sudah tersungging di bibir indahnya.  Betul kan Bi…” Jonathan pun mengejar Putri Aurora diikuti oleh Marloette yang hanya geleng-geleng kepala.
“Mau apa lagi Jo” bentak Putri Aurora ketika Jonathan sudah sejajar dengannya.
“Hanya mau mengingatkan nanti sore ada latihan pedang di Taman Beringin Tengah”
“Huh…berlatih pedang terus tapi tidak pernah dapat kesempatan keluar.  Memangnya siapa yang mau aku tebas dengan pedangku di istana ini”
“Hahaha…” Jonathan tidak dapat menahan tawanya, membuat wajah Putri Aurora semakin lucu.
“Kenapa tertawa? Apa aku membuatmu geli ya”
“Maaf Tuan Putri…pasti tidak ada yang menyangka satu-satunya Putri kerajaan Winburg berlatih pedang hanya untuk menebas kepala orang”
“Okey…lalu katakan untuk apa aku berlatih semua itu hah?” Putri Aurora menghentikan langkahnya.  Dia sudah sampai di depan kamar megahnya.
“Berlatih pedang, naik kuda, memanah, berenang, bahasa, bahkan sampai meracik obat. Buat apa semua itu?” Putri Aurora membuat senyum Jonathan semakin lebar.
“Untuk melindungi diri Tuan Putri bila kesempatan keluar istana itu hadir” Putri Aurora terdiam cukup lama, kalimat Jonathan memercikkan ide nakal di benaknya.  Benar apa kata Ksatria Pelindung yang satu ini bahwa Putri Aurora sudah memiliki bekal cukup untuk melindungi dirinya sendiri bahkan bila berada di luar istana sekalipun.
“Oya? Bukankah aku selalu didampingi para Ksatria Pelindung setiap saat? Jadi buat apa memerlukan semua perlindungan diri seperti ini?” pancing Putri Aurora.
“Bagi kami nyawa Tuan Putri adalah yang utama bahkan di atas nyawa kami sendiri namun bagaimana pun kami hanya manusia biasa Tuan Putri” jawaban Jonathan membuat Putri Aurora tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Putri Aurora menyunggingkan senyuman penuh arti, penuh ide nakalnya.
“Selamat mandi Putri…” imbuh Jonathan sambil membungkukkan diri pamit dan membuat wajah Putri Aurora memerah.  Dia tidak sadar sedari tadi hanya menggunakan piyama berkeliaran di istana megah ini. Ah bukannya Jonathan sudah sering melihatnya mondar mandir seperti anak kecil hanya dengan piyama tidur tapi mengapa kali ini wajah Putri Aurora merah merona menahan malu. Entahlah.
“I…iya” jawab Putri Aurora malu sembari segera masuk ke dalam kamarnya.  Di dalam, lima dayang sudah menunggunya dengan perlengkapan mandi.
“Huh…harusnya aku sudah tidak harus merepotkan kalian semua.  Masa hanya untuk mandi butuh banyak orang seperti ini.  Tinggalkan saja aku sendiri” Putri Aurora membuat Marloetta yang baru saja datang makin tersengal-sengal.
“Ampun tuan Putri…ini sudah aturan istana.  Kita harus melayani semua keperluan tuan Putri termasuk mandi”
“Aku akan bersiap sendiri Marloetta.  Kalian tunggu saja di luar.  Aku tidak akan lama” Marloetta masih bingung.  Keinginan Putri Aurora memang aneh-aneh.
“Ini perintah Marloetta” tambah Putri Aurora dan Marloetta keluar dari kamar megah Putri Aurora  diikuti oleh kelima dayang.
“Huaaa….akhirnya pergi juga” Putri Aurora mengghela napas lega.  Dirasakan hangatnya air di bak mandi besarnya.  Awalnya Raja ingin membangun kolam kecil agar Putri kesayangannya ini dapat bebas berenang namun Putri Aurora menolak karena berenang di Ruang  Duyung sudah membuatnya puas tanpa perlu membangun khusus di dalam kamar megahnya.  Ruang Duyung sendiri memang tempat berenang terbesar di dalam istana Winburg ini.  Terdiri dari beberapa sekat tergantung tingkatan jabatan di istana.  Ruang Duyung untuk Putri Aurora pun sudah tersedia khusus, sebuah kolam renang berhiasan batu marmer dengan ukuran keeluruhan 20 meter x 30 meter dan terdiri dari kedalaman yang berbeda-beda.
“Hm…benar juga yang dikatakan Jonathan tadi.  Bekal yang kumiliki sudah cukup.  Aku dapat menghirup udara kebebasan sebentar lagi tanpa perlu menunggu empat tahun ini.  Benar juga kata Marloetta.  Aku tidak akan mogok makan seperti dulu.  Konyol sekali membayangkan ayah akan memberiku izin sementara badanku sudah lemas tidak makan berhari-hari.  Ayah…ayah…kapan berhenti memperlakukanku seperti anak kecil dan selalu saja khawatir” Putri Aurora meluapkan semua ide nakalnya selama berendam dalam cairan lembut nan harum.
Tampaknya kali ini idenya akan berjalan lancar.  Mungkin.
***
Tiga tahun yang lalu Putri Aurora pernah merajuk ingin melihat kondisi di luar istana hingga rela mogok makan dua hari berturut-turut dan Raja Thomas nyaris saja mengabulkan keinginannya. Puluhan Ksatria Pelindung, julukan untuk para Ksatria Winburg yang berhasil terpilih untuk menjaga Putri Aurora selama di dalam istana telah siap untuk mengawal Putri Aurora saat berada di luar istana nanti.  Berita kemunculan Putri Aurora pun sudah di dengar oleh rakyat sehingga ribuan rakyat Winburg yang tidak pernah melihat wajah Putri Aurora berkumpul di depan gerbang istana, berharap dapat melihat wajah cantik Putri kebanggaan Winburg tersebut.  Namun kegembiraan Putri Aurora hanya sampai di pintu gerbang istana Winburg saja.  Raja Thomas tiba-tiba mengurungkan niatnya dan menyuruh seluruh Ksatria Pelindung kembali ke istana utama dengan membawa serta Putri Aurora.  Seketika sirna sudah kegembiraan Putri Aurora.
Puluhan Ksatria Pelindung di atas kuda dan juga sebuah kereta kuda istimewa yang sudah dipersiapkan untuk Putri Aurora harus rela kembali dengan tangan kosong.  Persiapan yang menghabiskan waktu dua hari dan melibatkan hampir seluruh pengawal istana itu berakhir dalam sekejap saat seorang Ksatria Pelindung berkuda dari istana utama menuju ke samping Ksatria Jonathan yang dipercaya menjadi pimpinan.  Ksatria Pelindung itu memberikan gulungan surat kepada Ksatria Jonathan yang isinya Sang Raja membatalkan acara Putri Aurora tanpa alasan yang jelas.
“Ayah Jahat !!!” hanya kata-kata itu yang dilontarkan Putri Aurora tiga tahun yang lalu, saat berusia sepuluh tahun.  Bayangan indah berkelana di luar istana walau dikawal oleh Ksatria Pelindung langsung pupus seketika saat mendengar Ayahandanya membatalkan rencana ini.
“Maafkan ayah Putriku…ayah belum sanggup melepasmu” hanya itu yang diucapkan Raja Thomas membalas kalimat racauan Putri Aurora. 
“Aku sudah besar ayah…sampai kapan ayah akan mengurungku seperti ini terus.  Lagipula aku ditemani oleh Ksatria pelindung, para ksatria terbaik Winburg. Apalagi yang membuat ayah membatalkan hal ini” racauan Putri Aurora semakin menjadi-jadi.  Raja Thomas Joseph King X hanya diam.  Dia tahu menjawab pertanyaan putrinya yang sedang emosi sama saja dengan menyulut api ke dalam jerami kering, semakin besar nyalanya.
“Ayah Jahaaaaatttt” dan kalimat itu menutup kemarahan Putri Aurora yang selanjutnya mengurung diri di ruang baca istana. 
“Tinggalkan aku sendirian” ujarnya mengunci diri di Ruang Baca Putri, sebuah perpustakaan khusus di dalam istana Winburg yang dirancang khusus oleh Raja Thomas demi memuaskan hobi baca Putri Aurora.  Bukan perpustakaan kecil karena ruangan berukuran dua puluh meter kali sepuluh meter ini dipenuhi buku yang sebagian besar sudah dilahap oleh Putri Aurora bahkan sejak pertama kali Putri Aurora dapat membaca.  Bahkan Raja Thomas terpaksa memindahkan sebagian buku di Perpustakaan Utama istana Winburg ke dalam Ruang Baca Putri tersebut atas permintaan Putri Aurora.  Tidak jarang Putri Aurora meminta buku yang tidak pernah dibayangkan oleh Raja Thomas sekalipun.  Alfonso sebagai penjaga Perpustakaan Utama bahkan sampai geleng-geleng kepala terhadap hobi baca Putri Aurora.  Lelaki berpawakan pendek yang sudah lebih dari setengah abad itu kagum sekaligus kewalahan dalam menyediakan buku yang diminta oleh Putri Aurora.  Pernah suatu saat Putri Aurora meminta buku tentang saluran air negeri Winburg dan Alfonso baru memberinya setelah dua hari mencari di ratusan deret rak buku Perpustakaan Utama.
“Buku yang aneh…lebih aneh lagi hobi membaca Tuan Putri ini” gumam Alfonso sembari terus mencari buku yang diminta Putri Aurora.
Terbukti usaha pencariannya tidak sia-sia bahkan sampai Putri Aurora mendatanginya di sore setelah hari kedua pencarian Alfonso.
“Sudah dapat bukunya paman?” begitu tanya Putri Aurora pertama kali memasuki Perpustakaan Utama.
“Wadoh Tuan Putri…buku yang Tuan Putri minta begitu sulit dicari apalagi tercampur baur dengan ribuan buku di ruangan besar ini.  Kiranya gerangan apa yang membuat Putri ingin mengetahui saluran air negeri Winburg?”
“Aku hanya penasaran saja paman. Bagaimana mungkin negeri kita yang berupa daratan dan hanya dikelilingi satu lautan ini masih dapat memasok air tanpa henti sementara setahuku hanya sedikit mata air di negeri kita”
“Ohhh…semuanya karena kita memiliki Sungai Heart Red  Putri.  Tanpa sungai terpanjang sekaligus terbesar ini mustahil kita dapat mengairi seluruh pertanian rakyat Winburg termasuk istana ini juga”
Putri Aurora diam mendengarkan.  Otaknya kembali mendapatkan ilmu sekaligus mencuatkan banyak pertanyaan di benaknya.
“Berarti bila Sungai Heart Red  kering kita semua akan mati paman?” tanya Putri Aurora memastikan.
“Tidak langsung mati Putri…penduduk Winburg tidak sebodoh itu hanya mengandalkan Sungai Heart Red Putri.  Bagi mereka, sungai ini adalah sungai suci yang harus dijaga tidak boleh kering sehingga banyak di antara penduduk yang juga menggali sumur sebagai sumber air”
“Sumur…lubang besar seperti di dalam istana kita ini paman?”
“Benar tuan Putri…”
“Tapi paman…bila Sungai Heart Red  adalah hal penting di Winburg, apa jadinya bila suatu hari nanti musuh menguasai sungai tersebut.  Meracuninya atau mengirimkan pasukannya dari bawah sungai untuk menghancurkan negeri kita?”
Alfonso terkejut bukan main atas pertanyaan Putri Aurora.  Ingatannya tentang perang terakhir dari bangsa Bar-Bar yang masih membekas lantaran saat perang dia seusia Putri Aurora tersebut membuatnya merinding.  Semoga peperangan paling keji yang pernah diketahuinya itu hanya berlangsung sekali dan tidak akan pernah terjadi lagi.
“Tuan Putriku yang bijak…hanya orang-orang yang berhati mulia yang tidak akan berperang merusak bangsa tertentu namun hanya orang yang berhati baik yang akan berperang dengan cara sehat bukan cara licik yang menyengsarakan rakyat tidak berdosa”
“Tapi paman…kita tidak akan pernah tahu bukan apa yang akan terjadi”
“Benar Putri…sama seperti peristiwa lima puluh tahun yang lalu saat bangsa Bar-Bar menyerang negeri kita.  Saat itu paman masih kecil sama seperti usia Tuan Putri sekarang ini.  Peperangan yang sangat keji”
“Ceritakanlah perang itu padaku paman.  Aku tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya bahkan dari guru yang ayah kirimkan sekalipun” rasa penasaran menggerogot Putri Aurora.
“Bangsa Bar-Bar sebenarnya tidak lebih kuat dari para Ksatria Winburg yang bertubuh besar.  Bangsa Bar-Bar hanya kumpulan orang-orang pendek berkulit sawo matang  dengan muka keras.  Namun dengan badannya yang kecil itu mereka lihai bergerak ke mana pun.  Mereka menyerang menggunakan Sungai Heart Red  seperti yang Putri katakan tadi.  Bahkan mereka berhasil menyusup hingga ke dalam istana.  Untung saja Ksatria Winburg telah bersiaga melindungi istana sehingga pertahanan kita satu-satunya tidak jatuh ke tangan mereka.  Darah menggenangi seluruh Winburg bahkan Sungai Heart Red  berubah menjadi lautan darah.  Bukan hanya pasukan Ksatria Winburg yang ikut melawan serangan Bar-Bar tersebut namun juga rakyat Winburg.  Mereka yang mengetahui pasukan Bar-Bar bermunculan dari dalam air sungai segera saja menaburkan zat cuka maupun saos pedas yang membuat mata Bar-Bar terasa pedih.  Namun apalah arti perlawanan rakyat dibanding ribuan pasukan Bar-Bar yang datang.  Peperangan ini memakan korban banyak sekali terutama dari kalangan rakyat jelata yang hanya dapat bertarung ala kadarnya.  Saat itu, negeri kita dipimpin oleh Ksatria Johannes Joseph yang akhirnya menggantikan Raja Winburg.  Mengerikan sekali Putri…sungai Heart Red  bahkan berubah warnanya menjadi warna darah hingga seminggu setelah peperangan usai.  Rakyat menyebutnya Heart Red karena diharapkan peristiwa berdarah yang membuat air sungai berubah merah tersebut tidak akan pernah ada lagi. Itu benar-benar perang terkeji yang pernah hamba lihat putri…”
Putri Aurora merasakan udara dingin menyergapnya selama Alfonso menceritakan perang Bar-Bar kepadanya. Terasa butiran hangat mendesak di ujung pelupuk mata Putri Aurora.  Bayangan ribuan rakyat jelata menjadi korban di Sungai Heart Red membuatnya teringat dengan sahabat kecilnya yang juga menjadi korban sungai terpanjang dan terbesar di Winburg.
“Maafkan hamba membuat Putri bersedih…” Alfonso segera membungkukkan badan meminta maaf setelah melihat butiran bening tersebut.
“Aku yang seharusnya minta maaf paman…aku membuka luka lama paman.  Maafkan aku yang terlalu bersenang-senang di istana ini padahal istana ini dibangun dari perjuangan para Ksatria yang rela mengorbankan dirinya.”
“Benar Tuan Putri.  Sejak peperangan yang memakan korban terbesar itulah muncul Hutan Ksatria.  Rakyat secara sukarela mengabdikan dirinya berlatih kekuatan fisik di Hutan Ksatria ketika mereka dewasa.  Bahkan sejak dari kecil, hampir seluruh lelaki di Winburg ini akan bercita-cita menjadi Ksatria Winburg.  Para kepala keluarga akan bangga bila anak lelakinya dapat berlatih di Hutan Ksatria. Hanya ksatria yang sudah terujilah yang dapat memasuki istana ini putri”
“Maksud paman…termasuk Jonathan yang tidak pernah hentinya memaksaku berlatih pedang itu paman?” Putri Aurora membayangkan tubuh berotot Ksatria Jonathan yang selalu berhasil memaksanya berlatih pedang setiap hari.
“Benar Tuan Putri.  Kami para ksatria telah mendapatkan tugas kami masing-masing untuk memberi ilmu yang kami punya kepada Putri karena Putri satu-satunya penerus kerajaan Winburg ini”
“Tapi paman…bukan kah para Ksatria itu juga dapat menjadi penerus kerajaan Winburg? Sama seperti Ksatria Johannes yang melumpuhkan bangsa Bar-Bar dulu?”
“Itu memang benar Tuan Putri.  Namun bagaimana pun Tuan Putri satu-satunya putri Baginda Raja dan berhak memimpin negeri ini suatu hari nanti”
“Tapi paman…aku masih suka bermain.  Masa seorang Raja kerjanya hanya bermain saja” Putri Aurora tersenyum kecil.
“Suatu hari nanti Putri akan mengetahui bahwa Putri pantas memimpin negeri ini”
“Tapi paman…bagaimana aku bisa memimpin negeri ini bila aku tidak pernah melihat negeri ini secara keselurahan.  Masa aku hanya di dalam istana saja dan mengetahui dunia luar sana dari buku-buku yang paman berikan”
“Itulah gunanya buku Putri.  Buku membuka mata kita bahkan sebelum kita melihat dunia secara langsung.  Dan…ini buku yang Putri minta” Alfonso menyerahkan sebuah buku tentang saluran air negeri Winburg kepada Putri Aurora yang menerimanya dengan senang hati.
“Bila tidak keberatan…adakah buku khusus tentang perang dari bangsa Bar-Bar tersebut paman?  Aku tidak pernah mendengar perihal peperangan ini dari guru-guruku termasuk dari ayah juga.  Aku hanya ingin mengetahuinya lebih jauh.  Tolong carikan untukku ya paman.  Terima kasih atas buku yang ini paman.  Aku akan melengkapi perpustakaanku dengan buku ini” Putri Aurora membungkukkan badan layaknya Putri sesungguhnya dan memohon pamit sebelum Alfonso dapat menjawab permintaan Putri Aurora.  Mungkin memang tidak perlu jawaban karena setiap permintaan buku dari Putri Aurora artinya wajib dicarikan bahkan kalau perlu diciptakan bukunya bila memang belum ada.
***
Hobi membaca Putri Aurora sudah lama berlangsung apalagi sejak Putri Aurora dapat membaca pertama kalinya di usia yang sangat muda, tiga tahun.  Hampir tiap hari para dayang kewalahan menyediakan buku bacaan yang pantas untuk usia dini Putri Aurora.  Belum lagi setiap akan tidur Putri Aurora selalu minta dibacakan dongeng yang tidak boleh sama setiap harinya.  Untuk yang satu ini, Raja Thomas bahkan terpaksa mengumpulkan semua pendongeng hebat di negerinya untuk menuliskan kisah dongeng yang mereka punya di buku khusus.  Buku inilah yang nantinya akan dibacakan oleh para dayang bergantian sampai Putri Aurora tertidur.  Sampai usia sepuluh tahun pun Putri Aurora masih minta dibacakan dongeng sehingga sudah tujuh tahun berturut-turut Putri Aurora mendengarkan ribuan dongeng. 
Herannya, Putri Aurora tidak pernah bosan bahkan Putri Aurora selalu ingat dongeng yang sudah pernah didengarnya.  Pernah Marloette menceritakan dongeng yang sama dan walhasil malah Putri Aurora yang bercerita tentang dongeng tersebut kepada Marloette.  Kata Putri Aurora, itu dongengnya saat berusia lima tahun.  Ingatan yang luar biasa bukan.  Dari ribuan dongeng yang Putri Aurora dengarkan, ada satu dongeng yang selalu diingatnya termasuk orang yang menceritakan dongeng itu kepada Putri Aurora. Dia sebenarnya pendongeng sekaligus pelindung utama Putri Aurora saat berusia tiga tahun.  Dia juga orang pertama yang mendongengkan cerita indah kepada Putri Aurora.  Namun sayang orang tersebut hanya menjadi kenangan saja karena tepat di usia kelima tahun Putri Aurora, orang itu menghilang. 
Putri Aurora memang bukan putri sembarangan apalagi dengan daya ingat luar biasa yang dimilikinya.  Warisan kepandaian dan kecantikan dari Ibundanya erat melekat pada diri sang putri.  Ratu Maria Frederich Lou merupakan putri kesayangan dari Raja Frederich dari negeri tetangga Winburg, negeri Sundesch.  Istana Sundesch yang terletak di ujung selatan daratan istana Winburg ini memang terkenal makmur sehingga Raja Frederich Lou merelakan putri tersayangnya bersandang dengan Pangeran Thomas Joseph King X yang kini menjadi raja Winburg sekaligus ayahanda Putri Aurora.
Tercatat pernikahan Raja Thomas Joseph King X dengan Maria Frederich Lou merupakan pesta rakyat terbesar selama sepuluh tahun terakhir.  Pintu gerbang utama Istana Winburg yang biasanya tertutup untuk rakyat umum dibuka lebar-lebar dan seluruh rakyat bebas menikmati aneka ragam makanan dan minuman.  Pesta pernikahan tersebut lebih meriah daripada pesta tahunan perayaan kemerdekaan Winburg. Kelahiran Putri Aurora sebagai satu-satunya penerus keturunan Joseph King juga membuat rakyat Winburg bersuka cita sekaligus berduka yang sangat mendalam karena kehilangan Ratu Maria yang mereka idolakan.  Tercatat pernihakan singkat lima tahun tersebut membuat rakyat bahagia.  Ratu Maria adalah ratu yang tidak segan bergaul dengan rakyat jelata.  Pintu gerbang istana Winburg seakan terbuka lebar untuk seluruh rakyat yang membutuhkan.  Tidak jarang Ratu Maria keluar dari istana  hanya sekadar untuk mengetahui adakah rakyatnya yang masih kelaparan dan tidak mempunyai sesuatu untuk dimasak.  Ratu Maria lebih sering menyamar menanggalkan kemewahan istana dan hanya ditemani oleh Ksatria Pelindung bila bertemu rakyatnya.  Saat itu, Alexander van Burgh adalah Ksatria Pelindungnya.
Kini Putri Aurora beranjak 13 tahun dan keinginannya untuk melihat dunia di luar istana Winburg semakin bergelora.  Putri Aurora begitu terhipnotis oleh puluhan buku tentang Winburg yang habis dilahapnya.  Selama ini Putri Aurora hanya mendengar cerita Winburg dari dayang, Ksatria Pelindung, para guru bahkan buku saja tanpa pernah sekalipun dia melihat secara langsung negerinya di luar sana.  Selama ini pula Putri Aurora belajar dari para guru terbaik yang didatangkan langsung dari tempat-tempat terbaik di Winburg. 
“Mari masuk putri…Paduka Raja sudah menunggu lama untuk sarapan ini” ajak Marloette yang terkejut melihat hasil dandanan Putri Aurora tanpa bantuan para dayang.  Sama cantiknya dengan Ratu Maria dulu.
“Kenapa melihatku seperti itu Marloette?” Putri Aurora tampaknya mengerti tatapan berbeda Marloette.
“Ampun Putri… Putri Aurora  cantik sekali hari ini sama seperti Baginda Ratu Maria awal berada di istana dulu” dan Putri Aurora hanya tersenyum.  Lukisan besar Ratu Maria di kamar megah Putri Aurora memang tidak dapat berbohong bila wajah dan kecantikan Ratu Maria menurun langsung kepada Putri Aurora.
“Baiklah…mari kita temui ayah” Putri Aurora berjalan mengikuti Marloette menuju ke ruang makan.
“Aku akan bicara lagi pada ayah tentang rencanaku keluar istana.  Tak sabar rasanya harus mengunggu 4 tahun lagi.” ujar Putri Aurora pelan seperti mengoceh mulai dari kamar besarnya hingga ruang makan.
“Putri Aurora memasuki ruangan” suara lantang penjaga pintu terdengar dan Putri Aurora berjalan elok memasuki ruang makan tersebut.  Tak banyak memang, hanya ada Raja Thomas di pagi itu.  Sarapan pagi setiap hari Rabu memang khas hanya ada Raja dan Putri, berbeda dengan sarapan di hari Senin yang melibatkan seluruh petinggi istana Winburg dan Putri Aurora pun ikut di dalamnya.  Turut menyaksikan gaya makan para petinggi Winburg yang membantu Raja Thomas menggerakkan negeri Winburg dalam kesejahteraan.  Selebihnya hari-hari biasa sarapan dilakukan di ruang masing-masing karena kesibukan Raja Thomas yang luar biasa.
“Selamat pagi Ayah” Putri Aurora mendekat dan mengecup pipi Raja Thomas.
“Putriku tersayang….selamat pagi.  Lama sekali ayah harus menunggumu hanya untuk sarapan spesial ini ”
“Maafkan Aurora ayahanda“ ujar Putri Aurora sembari tersenyum. Keduanya kini berada di tiap ujung meja makan sepanjang lima meter tersebut.  Para dayang segera mengeluarkan hidangan sarapan pagi.  Biasanya menu Cornette selalu jadi menu spesial di sarapan hari Rabu ini karena Putri Aurora memang begitu menyukai Cornette buatan koki terbaik di istana Winburg, Bernando.  Cornette yang berupa sup jagung ini dimasak tidak begitu matang hingga airnya masih bening dan bila jagung mudanya masuk ke mulutmu maka langsung akan terasa kres dan rasa manis akan menyebar.  Hanya berupa jagung manis yang dibuat sup dengan rasa alamiah jagung yang tidak hilang tapi siapa sangka Bernando membutuhkan bumbu-bumbu lainnya agar setelah rasa manis, ada rasa gurih serta asin yang mengenyangkan.  Tidak semua koki istana ini dapat membuatnya dengan sesempurna Bernando, koki idola Putri Aurora.
“Ayah, bagaimana kabar kakek Frederich.  Sudah lama tidak berkunjung kemari. Apakah sakit kakek sudah membaik?” tanya Putri Aurora kemudian setelah berbagai hidangan siap di hadapannya.  Berbincang di sela sarapan ini adalah hal yang paling menyenangkan karena sulit untuk bertemu Raja Thomas dalam waktu luang yang banyak.
“Kabar terakhir kakek masih belum membaik sayang namun ayah sudah carikan tabib dan dokter terbaik untuk mengobatinya.   Putriku tidak perlu terlalu khawatir”
“Aurora ingin sekali mengunjungi kakek, ayah.  Selama ini kakek begitu baik terhadap Aurora dan sekarang saatnya Aurora membalas kebaikan kakek” Putri Aurora menata kalimatnya dengan baik, hanya untuk satu tujuan, melihat dunia di luar istana.  Raja Thomas hanya diam dan tidak segera menjawab.
“Putriku sayang….bersabarlah empat tahun lagi dan kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau di luar sana” ucap Raja Thomas tegas seperti tanpa sela sedikit pun untuk Putri Aurora menerobosnya.
“Ayahandaku sayang, Aurora takut bila nantinya berada pada penyesalan teramat berat bila tidak segera mengunjungi kakek….” Lanjut Putri Aurora memberi jeda ayahnya untuk berpikir.
“Aurora tidak ingin kejadian nenek terulang lagi dan Aurora hanya dapat berkabung dari dalam istana ini tanpa pernah sekali pun melihat makam nenek” garis wajah Paduka Raja sedikit melunak dan Putri Aurora merasa sedikit lagi misinya akan berhasil.
“Aurora tidak akan lama di sana ayah…hanya memberikan sedikit hadiah untuk kakek.  Aurora telah merajut baju hangat untuk kakek” Putri Aurora tak berhenti merayu.
Paduka Raja menarik napas berat.  Bukan kali pertamanya kejadian seperti ini terjadi.  Melepaskan putrinya sendirian melintasi jarak jauh ke negeri seberang bukan perkara yang mudah apalagi sebelum usia Putri Aurora 17 tahun.  Begitu berat taruhannya walaupun Ksatria Winburg terkenal sebagai ksatria terbaik seantero negeri ini namun tetap saja Raja Winburg merasa berat melepaskan Putri Aurora.  Putri Aurora satu-satunya pewaris tunggal kerajaan Winburg dan itu berarti keselamatannya adalah yang utama.  Lagipula, Raja Winburg itu yang paling tahu berapa banyak musuhnya di luar sana yang ingin menyakiti putri kesayangannya, Putri Aurora.
“Putriku sayang…kondisi di luar sana kurang baik untukmu dan dapat membahayakanmu” desah Raja Thomas pada akhirnya dan dapat ditebak raut kecewa wajah Putri Aurora.
“Ayah tidak dapat mengizinkanmu.  Nanti ayah perintahkan orang terbaik untuk mengantarkan hadiahmu pada kakek.  Baliau pasti paham alasannya.  Hal ini tidak perlu dibahas dan diperpanjang lagi.   Bersabarlah empat tahun lagi atau tidak sama sekali melihat dunia di luar istana !” Raja Thomas menyudahi sarapannya.  Roti yang baru sepotong ditelannya tidak dihiraukan lagi.
Putri Aurora pun tak dapat menahan kesal. Ini bukan kali pertama permintaannya melihat dunia di luar istana ditolak.  Namun dia mengerti kini bahwa ayahnya lebih keras daripada batu sekalipun, sekali tidak tetap tidak.  Putri Aurora tampaknya memilih untuk diam.
“Baiklah ayah” Putri Aurora beranjak dari duduknya dan segera pamit keluar.  Para dayang mengikutinya dengan terburu-buru, sedikit berlari.  Tujuannya pun hanya satu, ruang baca istana.  Putri Aurora ingin mencari jalan keluar dari istana ini, pasti ada peta bawah tanahnya, pikir Putri Aurora.
“Tinggalkan aku sendirian” ujar Putri Aurora tidak ingin diganggu di ruang baca.
Istana Winburg dan seluruh penghuni di dalamnya tidak menyisakan satu tempat tersendiri bagi Putri Aurora. Semua  penghuni istana ini adalah mata-mata ayah yang setiap saat mengawasi Putri Aurora hingga tidak jarang untuk bernapas pun sulit apalagi mencoba keluar dari istana ini.  Namun kali ini niat Putri Aurora untuk melarikan diri sudah bulat, tidak dapat berubah lagi.
“Aku harus mendapatkan peta istana.  Harus…” Putri Aurora mulai membuka buku demi buku yang sekiranya berisi peta yang dicarinya.  Kumpulan buku tersebut tidak ada yang berdebu tebal karena para dayang memang spesial membersihkan ruang baca ini sampai tidak boleh ada debu yang menempel.  Namun tetap saja Putri Aurora terbatuk-batuk lantaran dia juga membuka buku-buku lama di rak paling atas.  Mungkin saja buku ini tidak terjangkau oleh para dayang sehingga masiha da debu yang menempel.
“Manaaaa…” Putri Aurora terus mencari.  Membuka satu demi satu lembaran buku.  Dia sudah bertekad untuk menemukan peta yang dicarinya.  Sudah sejam sejak pencarian dan tampaknya Putri Aurora mulai kelelahan.  Harusnya dia juga meminta tolong para dayang untuk mencarinya namun kali ini Putri Aurora harus menyelesaikan semuanya sendiri supaya tidak ada yang mencurigai ide nakalnya.
“Nah ini dia”  Putri Aurora akhirnya mendapatkan apa yang dia cari, sebuah peta kuno tentang istana dan negeri nya.  Terselip di buku tebal tentang Winburg.  Yah, Putri Aurora ingat ini buku yang dihadiahkan guru alamnya waktu Putri Aurora berulang tahun yang ke tujuh tahun.  Saat itu Putri Aurora embira sekali mendapatkan buku ini namun karena hadiah buku dari guru lainnya lebih banyak lagi maka buku ini hanya bercampur dan langsung singgah di rak ruang baca ini.  Putri Aurora baru membukanya lagi kali ini.
“Wow…hapir saja buku in terlupakan bila tidak ada ide gilaku. Duh…bagaimana cara membacanya dan mencocokannya dengan kondisi sekarang” pikir Putri Aurora mulai membuka lembar demi lembarnya.
“Hmm…tampaknya aku harus mencari tanda yang tidak akan pernah berubah. Bukan kah ini taman batu bundar? Aha…aku mengerti sekarang” Putri Aurora kegirangan mendapatkan secercah harapan untuk dapat mengerti makna di balik peta tersebut sembari tangannya menyalin membuat peta baru hasil pemahamannya. Ayahnya pasti akan curiga bila salah satu buku di ruangan ini hilang.  Putri Aurora tahu bahwa semua buku yang ada di ruang bacanya sudah terarsip rapi termasuk dikelopokkan berdasarkan abjad dan jenisnya. Mungkin niat ayahnya menyuruh orang merapikan keseluruhan sudut ruang baca ini untuk memudahkan Putri Aurora  namun Putri Aurora tidak sebodoh yang diperkirakan bahwa ayahnya selalu meneliti apa yang dibacanya.  Tapi kali ini Putri Aurora pasti lebih cerdik.  Wah...tampaknya kecerdikan ayahnya menular pada sang putri juga.
“Ah…tampaknya aku harus menemui Tabib Rudolf lagi….” Putri Aurora mendesah.  Tabib Rudolf merupakan salah satu guru Putri Aurora yang sangat baik namun tetap Putri Aurora tidak boleh bersikap mencurigakan bila tidak mau Tabib Rudolf melaporkan kecurigaanya pada Ksatria Pelindung dan tentunya sudah dipastikan Raja Thomas akan tahu. Walau begitu, Tabib Rudolf memahami keinginan Putri Aurora melebihi seluruh penghuni istana ini termasuk Raja Thomas.  Juga paham keinginan Putri Aurora untuk melihat dunia luar sehingga Tabib Rudolf selalu menyebutkan daerah penghasil tanaman obat bila sedang mengajari Putri Aurora meracik obat.
Putri Aurora memang masih sangat belia karena usianya baru 13 tahun namun semangat belajarnya melebihi apapun juga.  Putri Aurora selalu mewujudkan apa yang dia inginkan dan sebelum hal tersebut terwujud, dia tidak akan berhenti.  Sejak kecil, Putri Aurora telah dilatih segala macam ilmu untuk bekal menjadi pewaris tunggal pada nantinya.  Mulai dari berenang, berkuda, memanah, bela diri, berpedang dan semua bekal setara dengan seorang ksatria telah diajarkan secara perlahan pada Putri Aurora.  Hal ini tidak lain karena Raja Thomas sejak ari awal menganggap Putri Aurora adalah lelaki sehingga Putri Aurora memang terdidik mirip lelaki.  Baru tiga tahun belakangan ini saja Raja Thomas mulai menyadari bahwa Putri Aurora tetaplah seorang putri yang berhak mendapatkan pelajaran etika seorang putri termasuk memanjangkan rambutnya.  Akhirnya tiga tahun terkahir ini pun Raja Thomas mulai mengurangi intensitas latihan fisik untuk Putri Aurora dan menggantinya dengan semua hal yang berbau feminis termasuk aturan baru bahwa Putri Aurora wajib mengenakan gaun layaknya wanita.
Awalnya Putri Aurora masih tampak canggung untuk mengubah kebiasaanya bermain pedang dengan seragam ksatria menjadi gaun nan indah namun perlahan Putri Aurora berhasil mengubah sikapnya.  Walau tidak jarang, sifat tomboy Putri Aurora masih melekat meskipun sudah mengenakan gaun indah.  Bila sudah seperti itu, tak ayal para dayang dan pelindungnya yang dibikin repot.
Selain belajar ilmu bela diri, Putri Aurora juga begitu menyukai tanaman obat.  Walaupun tidak pernah keluar dari istana, Putri Aurora mengetahui hampir seluruh tanaman khas negeri Winburg termasuk tanaman obat dari taman Magic Finger yang ada di dalam istana.  Taman Magic Finger memang berisi seluruh tanaman obat dari pelosok negeri Winburg dan sudah ada sejak seabad lalu dan telah menyembuhkan banyak penghuni istana Winburg bila sakit. 
Putri Aurora selalu menyempatkan datang ke taman Magic Finger setiap harinya entah hanya sekadar bermain petak umpet atau belajar meramu dari Tabib Rudolf.  Putri Aurora paling senang mengumpulkan tanaman yang baru dikenalnya dan meramunya menjadi teh yang menyegarkan setelah terlebih dahulu mengeringkan dedaunan yang dipetiknya tersebut.  Tidak sedikit dayang yang menyukai teh racikan Putri Aurora namun tidak jarang pula dayang yang sakit perut kalau Putri Aurora salah bereksperimen. Untungnya hingga saat ini Putri Aurora tidak pernah membuat kesalahan fatal lantaran teh racikannya.
Pernah sesekali Putri Aurora berlarian dengan para dayang di taman Magic Finger dan terjatuh hingga lututnya berdarah.  Anehnya Putri Aurora tidak menangis bahkan malah mengambil beberapa tanaman obat di sampingnya untuk menutupi lukanya.  Para dayang saat itu sangat panik karena darah mengucur deras dan hanya berteriak memanggil Ksatria Pelindung.  Mereka sedikit lega ketika Putri Aurora dapat mengatasi perdarahan tersebut dan tidak menangis hingga akhirnya Jonathan datang membopongnya.  Tabib Rudolf pun sampai berlarian menuju ke Taman Magic Finger.
“Putri Auroraku…tanaman apa saja ini yang digunakan” Tabib Rudolf terheran saat melihat tiga lembar daun menutupi luka Putri Aurora.
“Seperti yang guru ajarkan tapi karena di sampingku hanya ada Andrographis jadi aku kombinasikan dengan daun ini”
“Untunglah tuan putri bertindak cepat.  Butuh waktu untuk berlarian di istana besar ini.  Maafkan keterlambatan hamba putri” Tabib Rudolf  membuka luka tuan putri dan menggantinya dengan perban steril.
“Guru…tidak menggunakan tanaman ini lagi ?” tanya Putri Aurora serius ketika peralatan dokter mulai memenuhi sekitarnya.
“Ilmu pengobatan selalu berkembang putri dan kita tidak boleh menutup diri darinya.  Sekarang telah ditemukan kasa steril untuk menutup luka dan juga antibiotik untuk melawan bakteri yang ada pada luka.  Tentu saja hamba masih menggunakan alam untuk menyembuhkan luka namun hamba juga tidak boleh menutup diri dengan perubahan apabila itu memang baik” Tabib Rudolf menjelaskan panjang.
“Apakah akan mengajariku pengobatan baru itu juga kan guru?” Putri Aurora bertanya untuk meyakinkan dan Tabib Rudolf tersenyum sembari mengangguk pelan.
“Putri terlalu pintar untuk tidak mempelajari ilmu baru ini.  Silakan belajar tuan putri karena tuan putri merupakan salah satu murid terbaik yang pernah hamba miliki” ujar Tabib Rudolf telah usai menutup luka Putri Aurora.
“Terima kasih Guru.  Terima kasih juga Jo, telah menggendongku sampai sini” dan Jonathan hanya tersenyum.  Tingkah laku Putri Aurora memang selalu membuat bingung orang di sampingnya.  Sialnya, Jonathan tidak selalu dapat mengamati dari dekat karena Putri Aurora selalu saja mengomel bila ada Ksatria Pelindung di sekitar tempatnya bermain.  Asalkan Jonathan dapat selalu hadir di saat yang tepat, itu sudah cukup untuknya.
Ruang Baca dan Taman Magic Finger tidak pernah sepi dari kunjungan Putri Aurora bila tidak ada jadwal latihan fisik dan juga seabrek pelajaran lainnya.  Sementara Taman Batu Bundar tempat melarikan diri Putri Aurora bila bosan melandanya.  Sebenarnya ada tempat rahasia lain yang akhir-akhir ini kerap dikunjungi Putri Aurora demi mewujudkan ide gilanya.  Dan kali ini hanya Putri Aurora yang tahu.
***